Blawong


Mbah Setro

Dustro mbah setro nyunggi suket…ket,
Ketan enake enak temen … men,
Mendud silit pitik di endud endud.

Gung Waliki

Gung Waliki wali gembung malekong,
Gendheng omah celeng, alun alun omah ndoro,
Ndoro ndoro kanjeng neng negoro golek udeng,
Udeng Udeng batik neng negoro golek pitik,

Jling Jling Tut

Jling Jling tut sak ulo ulo dowo,
sopo brai ngentut tak sembah rodo dowo,
tuku tahu setengah mateng,
kecipratan matane bileng.

E.. Dhayoke Teko

E.. dhayohe teko,
E.. gelarno kloso,
E.. klosone bedah,
E.. tambalen jadah,
E.. jadahe mambu,
E..pakakno asu,
E.. asune mati,
E.. guwangen kali,
E..kaline banjir,
E..sekekno pinggir.

teater gandrik_2

Sejak terbentuk 12 September 1983 hingga sekarang, dan melewati pasang surut kreatif bahkan masa-masa vakum yang menggelisahkan, Teater Gandrik rupanya masih saja memiliki kegelisahan untuk berkembang. Bagaimanapun Teater Gandrik merupakan salahsatu kelompok teater kontemporer Indonesia yang mampu mengolah bentuk dan spirit teater tradisional dengan gaya pemanggungan teater modern. Sejarah setidaknya telah mencatat: Teater gandrik adalah salahsatu representasi dari teater modern yang berkembang di Indonesia.

Tagun 1980-1990, bisa dibilang menjadi tahun tahun produktif Teater Gandrik. Ditandai dengan beberapa pementasan seperti Pasar Seret (1985), Pensiunan Sinden ( 1986), Dhemit,Isyu ( 1987), Orde Tabung, Huru Kunci( 1988), Upeti, Juragan Abiyoso( 1989), yang menjadi bagian penting dinamika sosial politik di Inadonesia pada masa itu. Ketika hegemoni kekuasaan ORBAbegitu kuat , lakon lakon Teater Gandrik mampu menjadi medium untuk melakukan kritik sosial sekaligus katarsis politik.

Namun pada masa sekarang, terutama kita tahu Indonesia pada masa transisi pergantian kepemimpinan, masih sangat diharapkan akan garangnya kritikan kritikan dari para seniman Teater Gandrik untuk mementaskan, fenomena sejarah tumbuhnya era perpolitikan yang bebas. Tetaer Gandrik begitu ditunggu pementasannya oleh para pemujanya, para penggemarnya, di seluruh jagat per teateran dan para pecintanya.
Kita tahu sejarah kemasyurannya dari track Rekordnya:

1983 Meh Kontrang Kantring
1985 Pasar Seret
1986 Pensiunan Sinden
1987 Dhemit, Kera Kera, Flu
1988 Orde Tabung, Juru Kunci
1989 Upeti, Juragan Abiyoso
1990 Tangis
1992 Proyek Buruk Muka Cermin Dijual
1999 Brigade Maling
2002 Mas Tom
2003 Departemen Borok

Abbi sayang Ummi…

Kmanapun… rasa ini menyertai, dalam jauh dan dekat mengikuti, bersama kita melangkah memperbaiki diri menjadi pribadi yang tahu diri serta mengerti akan makna hidup dan tujuan hidup ini, smuanya menjadi bermakna dalam langkah dan usaha…..i miss really u, ummi

Nasi tumpeng yah…. atau disebut sekol tumpeng, dikalangan masyarakat jawa menjadi ikon dimana setiap ada upacara yang melibatkan ritual kebanyakan ada nasi tumpeng. Nasi tumpeng bersama lauk pauknya seperti sayuran telor bihun tempe dll , menjadi rangkain tak terpisahkan. Dulu waktu saya masih usia kanak kanak, ibu selalu membikin nasi tumpeng setiap tanggal kelahiran saya dirayakan, dan otomatis teman temanku akan senang bukan main, karena nantinya akan dibagikan nasi itu bersama lauknya dalam wadah bernama pincuk yang terbuat dari daun pisang sebagai alasnya. Heheheh… seneng klo mengingat kenangan itu semua, namun seiring perkembangan zaman, dan atasnama tren nasi tumpeng telah berubah manjadi kue tart dan lilin sebagai gantinya , dan ritual tiup lilin pun menjadi sebuah kuajiban sebagai orang yang merayakan hari jadinya. Yah..apa hendak dikata zaman telah berubah, namun ada sesuatu yang hilang terasa di hati warisan leluhur itu kini sedikit mulai punah , dan entah akan ditemui kapan lagi di era sekarang….. ^_^

Rehat sejenak bersama keluarga adalah hal yang sangat menyenangkan, kebetulan semua pada libur maka perjalanan pun dirancang, dan….. Taman Kyai Langgeng menjadi tujuan untuk rekreasi…

Sangat indah, smoga tak ada perpecahan diantara kami sekeluarga… selamanya ^_^
Rumahku
Rumahku
Rumahku
Rumahku
Rumahku
Rumahku

Sangat amat sayang, regenerasi mulai tampak tunas tunasnya, tinggal dipuuk dan dijaga agar tidak di ganggu hama yang merusakkan. Zaman semakin maju, pola pikir serta jiwa mental spiritual hendaknya juga semakin maju, dan doa doa dari orang tua adalah nafas yang tiada henti membalur sekujur jiwa serta raga…… love u mom…

Heheheh bentar lagi mau pulang lagi, artinya udara khas Blawong akan segera dihirup dalam dalam. Dan lagi kegembiraan membuncah disana, betapa tidak, Blawong adalah tanah leluhurku dan tanah dimana pertama dipijak anak manusia ini. Yah… begitulah senengnya minta ampun, jauh hari jadwal kerja telah disusun sedemikian rapi, hingga memungkinkan untuk bisa pulang. Ku harap tidak terjadi seperti halseperti kemaren waktu pulang,  tiba tiba dikasih tahu ternyata harus masuk kerja, hingga bereantakanlah semuanya. Cepat cepat harus balik lagi ke Jakarta. Ya semoga…

Di Imogiri, ada minuman khas , masyarakat sekitar menamainya “Wedang Uwuh”  wedang artinya minuman, dan Uwuh artinya sampah. Mungkin klo dibarat bisa di sebut JunkDrink , ini mungkin saja. Bagaimana tidak dari segi tampilan saja minuman ini sangat mencerminkan bahwa emang minuman sampah , disana banyak ramuan rempahnya dan bahan bahannya dimasukin ke minuman itu, seperti Jahe, Kayu Manis, Serai, Daun daunan rempah, hingga gelas itu tampak penuh dengan aneka bahan itu. Tapi jangan salah itu nikmat sekali jika diminum pagi hari. Wuiiihhh…. Mantab!! Biasanya masyarakat sehabis lari pagi tau joging atau olahraga pagi mereka istirahat sambil menikmati wedang uwuh ini. Yah bagi yang belum mencobanya bisa datang ke imogiri , dan membuktikan. Oh ya bahan bahannya juga bisa beli juga loh disana hehehh …

Jokja sabar yah ,… aku segera pulang…^_^

Siti RukoyahNamamu biasa aja, tidakada berbau modern tidak pula sebagai nama yang usang. Ya nama lengkapmu Siti Rukoyah dilahirkan di tanah para raja Giriloyo 60 tahun silam. Dia adalah ibuku dengan segala kelebihan serta kekurangannya, kesabaranmu luarbiasa sebagi pakaian kehormatanmu, buah tuturmu sangat lembut dan bersahaja, kebersihan batinmu pun sangat terjaga tercermin dari sangat sedikitnya prasangkamu pada sesama.

Pendidikannya hanya tamat sekolah rakyat yang waktu itu memang belum ada yang namanya sedokah dasar ( SD ), tapi jangan salah sangka, bukan itu yang menjadi kelkurangannnya, namun itu sebagai kelebihan , betapa tidak, pendidikan yang pas pasan namun penghayatan akan makna hidup sungguh mendalam dan istiqomah dalam menjalankan peranannya sebagi seorang ibu.

Ibuku yang tercinta, diusiamu yang makin renta semoga dirimu senantiasa dalam kesegaran dan kesehatan senantiasa, tetap berdiri dalam kebijaksanaan dan kesabaran dalam meladeni bapak yang selama ini sudah hampir dua tahun terakhir dalam gerogotan struk yang meluluh kan raga.

Ibuku yang tercinta selalu menanyakan, ..” Lee.. apa kamu masih shalat? Lee apa kamu masih menjaga bacaan Al Quran mu?…”  Oh ibuku maafkan aku, dengan segala kekuranganku yang terlindas waktu dalam rutinitas dan kesibukan alam Jakarta,  banyaknya kikis amalan amalan itu. Sungguh aku malu, dalam mengatakannya. Namun aku berusaha tak akan mengecewakanmu dunia akhirat.. doa doamu memandikanku setiap kali aku dalam limbah kekotoran hidup. I love u Ibuku tercinta…^_^

Ya.. tanah blawong, dimana aku lahir dan dibesarkan, sungguh unik dan aroma pedesaaan begitu kental. Sejarah blawong dengan orang orangnya yang konon sangat perkasa hehehhe.. Jangan salah dulu, nama Blawong sangat terkenal di seantero Jokjakarta, disudut sudut jalan kota ini banyak tertulis AHLI SUMUR DARI BLAWONG.

Oh ya ternyata memang sejak dulu kala masyarakat desa ini terkenal kecanggihannya dalam menembus bumi untuk mengeluarkan airnya, alias bikin sumur, maka terkenallah daerahku sebagai Blawong tempat para penggali sumur.

Btw aku sendiri saat ini sebagai generasi keekian kalinya dari embah embah dulu, kurang paham mengapa dulunya kok bisa masyarakatnya jadi kebanyakan ahli sumur. Setahuku dari cerita simbok dan bapakku, emang simbah dulunya juga seorang penggali sumur yang handal, dan membuka usaha pembuatan cengkurah  ( batu yang dibentuk kotak kotak sebagai dinding pembuatan sumur). Namun saat ini hampir sebagian generasi seangkatan aku, tidak ada yang terjun melanjutkan keperkasaannya sebagai penggali sumur, sesuai perkembangan jamannya, kebanyakan lebih memilih pekerjaan lain, ada yang di hotel, computer, pedagang, pekerja dibalik layar seni, tapi ada juga beberapa yang mewarisi usaha bapaknya sebagai usaha bikin sumur. Yang dulunya menggunakan cengkurah sekarang tidak lagi, sekarang digantikan dengan Buis Beton dari semen untuk dinding sumurnya.

Blawong banyak sekali berubah, banyak pemuda dan pemudinya yang telah melancong keluar daerah dalam perantauannya maupun karena menikah dengan lain daerahnya. Maka masyarakat Blawong saat ini berubah menjadi masyarakat yang heterogen, dengan berbagai karakter dan profesi pada masyarakatnya.

Dimanakah Blawong ?  Oh ya , Blawong terletak sekitar 8 km kearah selatan dari pusat kota jokja, dari terminal bus Giwangan kearah selatan melalui Jalan Imogiri Timur ke arah Imogiri ( Makam Raja raja Mataram Jokja ) tinggal lurus saja. Blawong kini sedang mengalami perubahan pada bentuk fisik bangunan bangunannya, setelah kejadian Gempa Bumi 7.5 skala richter di tahun 2006 kemaren.